Cerpen · Kisah · Lightformeira · Tak Berkategori

3 INDIGO PENJAGA

Tersenyumlah! Kau tidak pernah tau, hal sekecil itupun mampu mengubah duniamu, Wahai kaum pembela.

***

Gilang gemilang jingga itu nyaris kandas ditelan bumi. Menyisihkan kesenyapan dalam siluet yang memendar dan menyayat iris mata. Magenta, Ajna, dan Chakra berjalan pulang seusai melakukan meditasi di lahan kosong luas dengan kontras hijau rumput dan biru damai langit. Tiga makhluk penjaga ini berjalan damai meninggalkan paparan alam itu. Hari semakin gelap. Hingga tak segores cahaya pun menampakkan wujudnya.

Kakek Ahmad telah menunggu kedatangan mereka sejak sore tadi. Ia adalah sesosok orang tua angkat sekaligus satu-satunya guru bagi mereka.

                        Kehidupan mereka layaknya 3 bintang yang tak pernah nampak kala malam. Dan tak pernah singgah kala mentari memajang. Ya, mereka tak mempunyai teman. Bukan karena mereka jahat atau dibenci karena pernah mengayunkan pedang untuk memusnakan seseorang. Tapi, entahlah apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan mereka. Orang tua? Mereka tak begitu percaya, benarkah ketiganya dilahirkan dari jeritan sang Ibu? Atau  diciptakan otomatis oleh sang langit? Ah.. Apa guna memikirkannya.

            Seringkali mereka mengatakan, Apa kita manusia? Lalu kenapa kita disini? Sedang mereka menganggap kita makhluk aneh. Demikianlah. Mungkin karena kekuatan yang diluar nalar manusia pada umumnya sehingga menyebabkannya tak bisa berkontraksi langsung dengan para manusia.

            Ajna. Gadis pelihat masa depan. Megenta Sang pembaca fikiran. Chakra memiliki kemampuan berkomunikasi tanpa bicara. Entahlah. Itu merupakan sebuah kelebihan atau bahkan kekurangan yang harusnya dimusnahkan. Yang pasti cukup mengesalkan tak bisa hidup layaknya manusia diluar sana. Umur mereka yang tergolong dewasa hanya bisa bersikap santai tak peduli. Mencoba menerima takdir meski terkadang seringkali ingin berontak melawan kehendak.

                                                                        ****

Negriku? Indonesiaku?

Semua bermula ketika suatu pagi Ajna bermimpi Negeri yang ia tempati hancur karena ledakan. Dan sekilas terlintas wajah-wajah bermata sipit dengan kulit putih tertawa lebar menyaksikan. Dengan sergap Ajna terusik oleh mimpinya dan terbangun resah. Ia langsung saja berlari mencari kakeknya. Berniat mengutarakan apa yang diimpikannya tersebut. Untuk kesekian kalinya ia mendapat petunjuk dari sang pemilik masa depan lewat mimpinya.

            ‘’Chakra, aku bermimpi tentang kehancuran negeri ini di masa yang akan datang. Apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkannya?” Ujar Ajna yang menemukan Chakra sedang menyeruput teh di taman belakang rumah.

            “Aku faham. Kita harus memberitahu seluruh para pembesar di istana. Bukankah masih ada banyak waktu untuk mencegahnya?” Jawab Chakra santai seraya menikmati kembali teh hangat di tangannya.

            Ajna terdiam masih gelisah namun tak separah sebelumnya. Meski negeri yang ia tinggali tak pernah mengakuinya sebagai penduduk di sana namun tetap saja negerinya adalah hidupnya. Disinilah ia bernafas dan menuangkan segala keluh kesah bersama sang alam. Tak hanya Ajna, Chakra dan Magenta pun berfikir demikian. Mereka, Sang makhluk penjaga yang hampir tak mengenal rasa benci apalagi dendam. Mereka jauh lebih bijaksana daripada manusia-manusia lainnya. Demikianlah, Mereka lebih sering disebut ‘3 Indigo Penjaga’.

            Berhari hari mimpi Ajna menjadi fikiran terberat mereka bertiga. Bagaimana tidak, mereka mengetahui masa depan yang begitu mengerikan akan terlimpahkan pada negeri yang mereka tinggali.

                                                                        ***

            Pada suatu masa, terjadilah sebuah sidang besar antara Pimpinan Negeri ini dengan pimpinan Amerika dan China. Sidang tersebut membicarakan rencana pembelian pulau Nipa. Pulau ini telah lama menjadi incaran dua Negara industry. Mereka menawarkan berbagai imbalan bahkan ancaman hanya untuk mendapatkan Pulau Nipa tak berpenghuni ini. Pembesar Amerika berencana menggunakan Pulau Nipa sebagai tempat peletakan senjata-senjata sehabis diproduksi. Sedangkan China akan menggunakan Pulau Nipa yang berada di sekitar Kepulauan Riau ini menjadi pabrik terbesar China. Dan mirisnya, tak ada yang tahu rencana licik tersebut dibalik rencana pembelian pulau Nipa.

Demikianlah para politikus pemegang kekuasaan bangsanya bertindak. Mereka tak mengambil sebuah jawaban berdasarkan kepentingan rakyat. Melainkan kepentingan mereka sendiri.

            Dengan berbagai pertimbangan yang melalui beberapa sidang besar setelahnya, Pulau Nipa beralih tangan ke Negara Amerika. Dengan alasan ‘Indonesia lebih membutuhkan uang dari pada pulau tak berpenghuni itu’. Demikianlah perkataan para rakyat yang mudah saja percaya akan omong kosong sang Pemimpin.

            Sebulan kemudian, Pulau Nipa sudah penuh dengan senjata-senjata yang dengan sergap telah diboyong puluhan tentara Amerika. Dan semakin membingungkan, kenapa ratusan senjata perang itu ditempatkan di tempat yang sunyi tak berpenghuni yang jelas-jelas tak akan memperkaya industri Amerika?

            Jawabannya…

            Lima bulan setelah peletakan itu, tiba-tiba saja Indonesia digemparkan dengan suara dentuman keras disekitar Kepulauan Riau. Sungguh, dalam beberapa detik api melahap seluruh kepulauan Riau dan sekitarnya. Seperti ada lemparan bom dahsyat yang terayun dari jauh. Darimana? Pulau Nipa? Atau yang lainnya?

                                                                        ***

            Demikianlah mimpi Ajna beberapa minggu yang lalu. Mereka bergidik sejenak membayangkan jika itu benar-benar terjadi. Bagaimana pun penduduk Indonesia memiliki hak untuk dilindungi. Bukan hanya menonton para politikus berbuat aksi.

            “Magenta, Ajna, tinggal dua minggu lagi sebelum sidang pertama diadakan. Apa kita bisa meyakinkan Pak Presiden untuk membatalkan kesepakatan? Sebelum Pulau Nipa benar-benar menjadi kehancuran untuk Indonesia?” Ujar Chakra.

            “Kita bisa meyakinkan Presiden jika kita punya bukti. Tapi untuk sekarang tak satupun bukti kita miliki.” Sahut Magenta.

            “Tak ada waktu untuk mencari bukti. Hanya dua minggu sebelum merah menyalakan kepulauan Riau. Kita bisa mengandalkan kemampuan telepati Chakra untuk meyakinkan Presiden, bukan?” Ucap Ajna dengan penuh harap.

            Dalam detik yang sama, mereka memikirkan satu hal. Apakah ini akan berhasil? Atau kita menyaksikan salah satu kepulauan Indonesia hancur karena kita tak melakukan apapun?

            Sangat sadis sebenarnya, hanya menunggu dan tak melakukan apapun. Sikap mereka yang bijaksana membuat nya lebih memilih menyimpan gelisah, menahan takut, dan memendam rasa iba sendiri. Tak ingin menurunkan semangat juang sesamanya. Hanya diam dan kemudian tersenyum.

                                                            ***

Istana Negara. Tak sembarangan orang dapat bertemu. Apalagi hanya untuk berujar kosong pada pemilik rumah. Berulangkali mereka bertiga mencoba memasuki Istana Negara dengan berbagai macam cara untuk meyakinkan. Namun lagi-lagi tak diperbolehkan. Mungkin bisa membuat perjanjian, tapi cukup lama waktu untuk menunggu. Sedang tak ada waktu lagi untuk menunggu. Sidang penentuan kepemilikan Pulau Nipa adalah besok. Wahai para pembesar bangsa, Sadarlah. Kau ditipu dengan limpahan uang. Kau mengorbankan rakyatmu demi benda tipis yang kau nilai mahal. Apa kau sadar? Rakyatmu lebih membutuhkanmu..

Pada akhirnya, Chakra, Ajna dan Magenta hanya bisa berharap akan keahlian Chakra dalam bertelepati. Terdengar mustahil tapi tetap saja berharap. Berharap sampai pada lubuk hati Kepala Negeri. Do’a pada Sang Kuasa pun sudah ribuan kali tercurahkan.

Indonesiaku. Jadilah kau Negara pembawa kebenaran bangsa. Yang tak peduli caci maki atau pengaruh Negeri pencaci. Sungguh, berharap Indonesiaku tetap jadi bangsa merdekaku.

Sidang besar tiga Negara telah berlangsung. Chakra, Ajna, dan Magenta berdiam di sebuah ruang kecil dalam istana. Ajna dan Magenta masih terus berdo’a dan sesekali tersenyum. Sedangkan Chakra telah terfokus dengan komunikasinya dengan Kepala Negeri. Meski berbeda, tiga indigo ini memikirkan hal yang sama. Pulau Nipa, tetaplah kau jadi milik kami..

Terlihat di sebuah jendela dekat Ajna, Segerombolan orang memakai jas dengan dasi yang begitu rapi telah keluar dari tempat persidangan. Serasa ada suasana baru disana. Berkulit putih bermata sipit keluar tanpa kepuasan sepertinya. Sedangkan, para wajah berhidung mancung dengan postur tinggi pun nampak berbisik pada koloninya seakan tak terima. Bertanya-tanya, Benarkah pulau Nipa menjadi kepemilikan Amerika?

Chakra yang sedari tadi terfokus dalam diam, kini angkat bicara.

“Magenta, Ajna. Semuanya telah usai. Pulau tak berpenghuni itu tak akan pernah berpindah tangan kepada siapapun lagi. Itu Indonesia kita.” Chakra tersenyum sangat puas. Karena Tuhan telah membukakan hati Kepala Negeri untuk menolak tawaran penjualan Pulau Nipa. Pulau Nipa perlu dilindungi dengan kekuatan para pengikut Kepala Negeri.

Semuanya telah berakhir sesuai dengan takdir. Sedikit menentang takdir dengan keajaiban sebuah do’a dan seulas senyum. Keduanya adalah hal remeh. Namun sungguh tak pantas diremehkan. Demikianlah, kata hati ‘3 Indigo penjaga’.

Indonesiaku. Tetaplah jadi Negeri tercintaku..

THE END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

t

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s