Cerpen · Kisah · Lightformeira · Me · Puisi · Sajak Meira

Cerita tentang ‘naluri’

Hanya berbincang pada bunga mawar di tangan..

Mudah sekali hidup ini berubah. Karena terlalu sulit melihat dia dan mereka begitu semangat beradu kreasi. Padahal semuanya bagus. Untuk apa musti berpeeang damai?

Aku yang hanya membawa setangkai mawar duduk termenung diujung ruang. Diam, sesekali melihat. Dulu aku ‘pernah’ mengarsir bentuk wajah dan uraia rambut dengan santai, dengan damai, dengan riang tanpa gersang. Sekarang dialah yang mengukir goresan goresan tipis pada kertas suci. Sedang aku. Aku menyembunyikan kertas lusuhku pada sebuah tas disampingku. Aku berhenti menggerakkan pensil. Kenapa?

Hey! Siapa yang tak suka dipuji? Siapa ang tak ingin pengakuan resmi para penikmat? Kau kira aku tak berfikir sepertimu?

Seringkali naluri menggemakan kata tanya. Kenapa aku tak bisa menggunakan pensilku di tempat ramai? Apakah karena kau ada bersama keramaian itu?

Bukan.. Mungkin karena memang naluriku hanya padaku.. Bukan padamu, ataupun mereka..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s